'WHAT SHOULD I DO AFTER ALL OF THIS?': Behavioral Engagement in Writing Class with Teacher Feedback
Judul Artikel: "WHAT SHOULD I DO AFTER ALL OF THIS?": Behavioral Engagement in Writing Class with Teacher Feedback
Nama Jurnal: JEELS (Journal of English Education and Linguistics Studies)
Volume & Nomor: Volume 12, Nomor 2
Tahun Terbit: 2025 (Publikasi: November 2025)
Penulis: Siti Mafulah, Maftuch Junaidy Mhirda, Wahyuningsih Usadiati, dan Sanwal Haider
Penerbit: Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, IAIN Kediri
DOI: 10.30762/jeels.v12i2.5373
kunjungi sumber asli di sini
Abstrak
Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus ini bertujuan untuk menggali keterlibatan perilaku (behavioral engagement) mahasiswa setelah menerima umpan balik (feedback) dari dosen dalam kelas menulis, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Umpan balik dosen dianggap penting untuk meningkatkan kualitas tulisan, namun efektivitasnya sangat bergantung pada bagaimana mahasiswa terlibat secara aktif dengan umpan balik tersebut.
Pengantar: Revisi Itu Penting, Tapi Kok Susah?
Semua dosen tahu bahwa feedback atau umpan balik adalah kunci utama agar kualitas tulisan mahasiswa meningkat. Kita sudah capek-capek memberi catatan merah, komentar panjang, hingga saran perbaikan. Tapi, pernahkah Anda bertanya: "Setelah semua ini, apa yang harus saya lakukan?"
Ya, pertanyaan ini bukan cuma datang dari mahasiswa yang bingung, tapi juga menjadi pertanyaan inti dari sebuah penelitian menarik tentang bagaimana mahasiswa benar-benar terlibat (behavioral engagement) dengan feedback dosen di kelas menulis.
Artikel ini merangkum temuan mengejutkan dari penelitian tersebut!
Temuan Kunci: Pola Keterlibatan Berbeda Berdasarkan Level Mahasiswa
Penelitian menemukan bahwa bagaimana seorang mahasiswa merespons feedback sangat tergantung pada tingkat kemahiran menulis mereka (Tinggi, Sedang, Rendah).
1. Mahasiswa Jago (Kemahiran Tinggi)
Mahasiswa yang sudah mahir menunjukkan engagement yang paling proaktif dan dewasa:
- Strategi Belajar: Mereka langsung bertanya kepada dosen ketika ada feedback yang membingungkan. Mereka memandang dosen sebagai sumber klarifikasi utama.
- Operasi Revisi: Mereka hampir selalu melakukan revisi yang benar dan jarang sekali mengabaikan feedback—mereka memang ingin tulisan mereka sempurna.
2. Mahasiswa Nanggung dan Pemula (Kemahiran Sedang & Rendah)
Di sinilah tantangan terbesar muncul. Pola engagement mereka lebih didorong oleh emosi dan ketersediaan:
- Strategi Belajar: Dibandingkan dosen, mereka lebih memilih bertanya atau berkonsultasi kepada teman/rekan (peers) saat bingung dengan feedback. Mahasiswa tingkat rendah bahkan dilaporkan takut atau canggung untuk mendekati dosen.
- Operasi Revisi:
- Sebagian besar masih melakukan revisi yang benar, namun tingkat kesalahan revisi yang salah lebih tinggi.
- Yang paling mencengangkan: Ada mahasiswa tingkat rendah yang sama sekali tidak merevisi dan langsung mengumpulkan draf mentah, bahkan berani menyalahkan feedback dosen yang katanya "tidak benar"!
Jadi, Kenapa Feedback Anda Diabaikan? Faktor-Faktor Kuncinya
Keterlibatan perilaku ini tidak terjadi begitu saja. Ada faktor internal dan eksternal yang memengaruhi:
- Faktor Internal (Dalam Diri Mahasiswa): Efikasi Diri Rendah: Merasa tidak yakin bisa merevisi, Takut Membuat Kesalahan: Khawatir revisi yang dilakukan malah salah, Motivasi vs. Kesadaran Diri: Jika motivasi rendah, mereka cenderung mengabaikan; jika kesadaran diri tinggi, mereka akan mencoba merevisi.